hi haluuw selamat datang di blog ini. Silahkan berkeliling dan meninggalkan komentar anda....

Musik Indonesia kini menuju tahap baru, setelah equinoxdmd dan ImPort yang memulai sebuah penjualan musik secara digital, baru - baru ini diresmikan lagi sebuah toko musik digital “Digital Beat Store“, yang salah satu ownernya adalah seorang blogger senior yang juga menjadi dosen di ITB, Pak Budi Raharjo.

Seluruh dunia kini sedang menuju arah digital musik.

Dimulai dari sekitar tahun 2001, tahun dimana Mac mengeluarkan sebuah alat untuk mendengarkan musik yang diberinama iPod. Dan sejak itulah demam iPod mulai merajalela di seluruh dunia. Hampir setiap orang selalu mempunyai benda kecil ajaib ini. Situs iTunes Music Store sendiri mulai berkembang jauh dan pesat. Dari hanya sekedar beberapa ratus download perhari menjadi ratusan ribu download sekarang ini. Tingkat penghargaan yang tinggi kepada seniman di negara barat adalah salahsatu hal yang menyebabkan kesuksesan penjualan lagu dengan cara tersebut. Bahkan pada tahun 2005 lalu, penjualan lagu secara digital melebihi penjualan lagu secara konvensional (konvensional disini adalah dalam bentuk kaset dan cd) menghasilkan tidak kurang dari $ 500 juta meningkat tajam 150% dari tahun 2004. Wooa..tak terbayang suksesnya. Ini mungkin lebih disebabkan karena album - album yang dihasilkan musisi tahun - tahun terakhir ini menghasilkan terlalu sedikit single yang bisa dijual untuk mengatrol penjualan album kaset dan cd mereka, sehingga para konsumen pun lebih memilih untuk membeli singlenya saja. Dan mereka bisa memilih untuk mendownload single yang mereka suka saja. Dan hasil diatas belum termasuk hasil penjualan single lewat ringTones yang juga menghasilkan banyak uang bagi para Music Label.

Bagaimana dengan di Indonesia? mungkin sekarang baru akan dimulai eranya….Kalaupun penjualan single lewat Nada Tunggu bisa dimasukkan ke dalam penjualan ranah digital, maka musik Indonesia pun termasuk sukses dalam hal ini. Ratu dikabarkan menghasilkan lebih banyak uang dari penjualan single “teman tapi mesra” dan “lelaki buaya darat” lewat nada tunggu daripada penjualan album konvensional mereka yang baru mencapai ratusan ribu saja. Begitu pula dengan peterpan dan Samsons.

Tapi itu kan penjualan single lewat nada tunggu…lha bagaimana dengan penjualan musik digital seperti di negara barat sana??? Kayanya nanti dulu deh, selain karena tingkat penggunaan media internet yang masih kalah dibanding negara - negara di barat dan bahkan asia tenggara, tapi juga tingkat pembajakan musik yang tinggi di sini..bukan bermaksud menjelek - jelekan bangsa sendiri, tapi ya lihat saja,pembajakan musik masih menjadi hal yang lumrah, bukan hal yang melanggar hukum. Aku sendiri ga munafik, masih ada juga beberapa file lagu bajakan dalam komputerku, tapi aku sendiri berusaha keras untuk menguranginya. Kalau cuma suka aj ya cukup dengar lewat radio, kalau udah terlanjur cinta ya terpaksa beli deh :( dengan mengorbankan porsi makan tentunya :D hehehe… Masih banyak orang yang akan berpikir “ngapain beli mahal-mahal, toh beli yang murah dengan kualitas sama juga ada” wuaaa….Tapi ya itulah relitas di negara kita.

Tapi terlepas dari persoalan diatas, mereka bertiga patut diacungi jempol. Karena merekalah yang akan membawa musik Indonesia ke level yang berbeda, ke level yang bisa untuk menghargai hasil karya cipta, hasil jerih payah dan banting tulang seorang musisi untuk menghasilkan karya cipta. Dan apabila hal itu sudah terwujud, yang paling diharapkan adalah peningkatan kualitas musik Indonesia, karena para musisi merasa hasil jerih payahnya dihargai oleh para penggemarnya.

Satu kata yang pasti adalah “Maju terus musik Indonesia”.

Random Post: